MASIH MENCARI BENTUK....


29 April 2003


Aduhai..........Ternyata hidupku masih terus berputar. Saat ini mungkin saat yang berharga buat melakukan perenungan yang bermakna. Sampai degup jantung terakhir, ternyata usiaku sudah sampai tahun ke dua puluh tiga. Ya, 23 tahun sudah aku menjejaki nafasku dalam dunia ini. Degup jantung ini semoga takkan bosan menghentakkan semangat hidupku, mengaliri pembuluh-pembuluh darah serta meniupkan jerat-jerat haya dalam keningku.

Mungkin kini saatnya aku bisa berkata tidak pada kesalahan. Atau berlaku wibawa pada degilnya nafsuku. Ya, karena di sepenggalan lalu, kaki terseret tak berdaya di antara kebodohan dan kedungu-an sang nafsu. Hatiku dirampas dari beningnya telaga, mataku disorotnya lewat buaian aurat, lidahku dihiasinya dengan senandung kenistaan. Oh......aduhai kiranya apa yang telah mencabik jiwaku ini? Bahkan air mata pun rasanya malu menetes di atas sajadah lusuhku.

Saat ini mungkin hari-hari terbaik bagiku untuk melihat jalan ke depan. Jalan yang entah seperti apa telah dilukiskanNya untukku. Aku tak punya kata-kata tentang apa yang terjadi pada hidupku kelak. Tapi aku punya tangan-tangan yang terus mengais rizkiNya dan aku punya mimpi yang akan terus aku wujudkan.

Semoga setiap binkai kata dan binar mataku senantiasa menghadirkan harap pada ketenangan. Dan semoga tangkai-takngkai iman di pematang jiwaku, selalu hadir bersemi dan kelak menuaikan ketaqwaan. Dan semoga diri terbimbing untuk semakin berbakti pada orangtuaku tercinta dan mengharum menyebarkan wangi persaudaraan pada orang-orang yang kucintai.

Padamu Allah senantiasa ku berharap

20 April 2003


Adakah yang membara dalam dadaku
Ketika setangkup keinginan hanya tertuang dalam selimut dan mimpiku
Bahkan air mata pun serasa malu menetes di atas sajadah
Karena bayangannya hanya sepenggal cerita

Mungkin masih banyak jalan yang harus aku rampungkan
Tapi aku takkan pernah tahu kapan titah Sang Khalik berlaku
Yang ada pasti hanyalah kesungguhanku pada garis yamg telah terbujur
Melintasi cakrawala hidupku yang tak tahu kapan ia kan berakhir
.
Adakah yang membara dalam dadaku
Ketika setangkup keinginan hanya tertuang dalam selimut dan mimpiku
Bahkan air mata pun serasa malu menetes di atas sajadah
Karena bayangannya hanya sepenggal cerita

Mungkin masih banyak jalan yang harus aku rampungkan
Tapi aku takkan pernah tahu kapan titah Sang Khalik berlaku
Yang ada pasti hanyalah kesungguhanku pada garis yamg telah terbujur
Melintasi cakrawala hidupku yang tak tahu kapan ia kan berakhir

19 April 2003

New Delhi, India

Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul "KALKY AUTAR" (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.

Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.

Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri "KALKY AUTAR" sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah Saw.

Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN.

Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya "ABDULLAH". Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya "AMINAH". Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya MINAH.

Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebiuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasulullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam.

Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra' Mi'raj dimana Rasullah mengendarai Buroq

Dikutip buletin Aktualita Dunia Islam no 58/II Pekan III/februari 1998

17 April 2003



Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Agung

15 April 2003



Ketika Matahari Sepenggalah

Pagi belum lagi beranjak, tapi kehidupan sudah lama nampak. Sementara matahari masih bersembunyi, meski bukan di balik gunung, tapi di balik kabut pagi dan asap kendaraan yang mulai banyak. Beginilah suasana kota Jakarta, mungkin juga kota-kota lainnya. Orang berduyun-duyun meninggalkan tempat tinggalnya menuju tempat beraktifitas masing-masing. Sekolah, kantor dan pasar, yang kebetulan semua terkonsentrasi di pusat kota. Semua berjibaku, semua bersicepat. Dan jalanan pun menjadi macet. Bunyi klakson bersautan, derum motor dan mobil bergantian. Sesekali diselingi umpatan. Banyak juga yang menggerutu diam-diam. Tak sedikit yang sekedar menghela napas panjang secara berulang, kemudian berubah menjadi dengusan.

Mengapakah dunia menjadi terlihat sedemikian menyebalkan? Padahal matahari masih sepenggalah? Padahal hari baru saja dimulai? Rasanya semua menjadi salah dan menjengkelkan. Terjebak di tengah kemacetan, suasana rumah sebelum berangkat pun tergambar: Tadi bangun kesiangan, anak-anak rewel atau orang tua cerewet. Berebut kamar mandi, baju belum diseterika.

Akhirnya berangkat terburu-buru dengan dada disesaki kekesalan. Bersegera berangkat, dengan harapan bisa lepas dari keributan kecil di rumah, selain juga karena ingat: masih ada tugas hari ini yang belum diselesaikan, masih ada PR yang belum dikerjakan, masih belum belajar untuk ulangan, ada pekerjaan yang harus selesai hari ini, atau pun presentasi yang belum disiapkan. Aduh, pusiiiiing!

Tetapi?
Tampaknya cita-cita itu tak bakal kesampaian. Kekesalan yang dibawa dari rumah tidak hilang, malah bertambah. Kemacetan di sepanjang jalan malah semakin membuat BeTe. Berjubelnya kereta membuat diri lecek luar dalam: fisik maupun hati. Tiba di tujuan, mood sudah hilang. Lesu, capek, muka berlipat: jengkel: Bagaimana mungkin tiba di kantor dengan kondisi seperti ini bisa bekerja dengan nyaman dan menjalankan tugas dengan baik? Bagaimana mungkin tiba di sekolah atau kampus dalam mood seperti ini bisa belajar dengan efektif?

Matahari masih sepenggalah, tapi rasanya dunia sudah demikian kelam dan mendung. Andai, andai saja seperti ini: Tiba di tempat tujuan, kita luangkan sedikit waktu. Menuju toilet, membersihkan diri, membenahi dandanan dan merapikan pakaian. Jangan lupa basuh wajah, tangan dan rambut: berwudhu. Duh, alangkah segarnya! Air wudhu yang sejuk, sedikit menurunkan suhu jiwa dan raga yang panas. Kemudian, menuju mushola, sejenak mendirikan shalat dhuha. Dua rekaat pun cukuplah. Hati pun tenang, kondisi stabil, niat kembali tertata. Mental kita pun siap mengerjakan dan menghadapi tugas-tugas yang menghadang, hingga kita bisa mengerjakan semua dengan maksimal. Jika demikian, masihkah mendung tergambar di wajah kita?

Terakhir, mungkin ini bisa menjadi pengingat dan penambah semangat: Dari Nuwas bin Sam’an ra bahwa Rasulullah bersabda: Allah berfirman: Wahai anak adam, sembahyanglah engkau empat rekaat pada permulaan siang (shalat dhuha), niscaya kucukupi kebutuhanmu sore harinya (HR Turmudzi).

Aha, siapa tidak mau dijamin rizkinya oleh Allah?

13 April 2003

05 April 2003

Beberapa saat lagi umurku akan bertambah. Bukan bertambah lamanya, tapi bertambah kehilangannya. Ya, umurku mungkin tidak bisa bertambah karena Allah telah menetapkannya. Maka berlalunya satu tahun umurku, berarti semakin sedikit kesempatanku untuk mengarungi kehidupan dan semakin dekat saat akhirku akan datang.

Ya, beberapa saat lagi sang waktu akan merampas kesempatan-kesempatan itu dariku. Padahal dengannya aku seakan tak peduli bahwa kesempatan itu kelak akan pergi. Aku seakan tak sadar bahwa kesempatan yang berharga itu telah aku hamburkan hanya tuk memejamkan mata sebentar, berburu makan ke sana-sini, melamun kesal di tengah kemacetan atau memikirkan letak dunia khayalku kelak.

Mungkin masih ada jalan untukku terbentang terang. Dan aku harap masih ada orang-orang baik yang mau memberiku uluran semangat yang kelak akan ku gunakan demi bekalku nanti.


02 April 2003

No word can say

PERANG SELALU MENIMBULKAN KORBAN-KORBAN MENDERITA

PERANG AKAN MENGAKIBATKAN PENDERITAAN BARU

PERANG AKAN MENGUKIR KISAH-KISAH KELAM

PERANG AKAN MELAHIRKAN PAHLAWAN-PAHLAWAN BARU



All written material is copyright mangdin(c)2006 --- Send me email to emilrabin@yahoo.com